RILIS: ASURANSI

imagesAsuransi: Halal atau Haram?

          Sebagai Negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, masyarakat Indonesa jelas tidak asing lagi dengan istilah berbau syari’ah. Satu dekade terakhir sering orang membicarakan tentang konsep ekonomi syariah karena dinilai lebih baik dibandingkan dengan konsep ekonomi konvensional yang dianut oleh banyak Negara.

Perkembangan penggunaan konsep syariah dalam kegiatan ekonomi pun bisa dibilang cepat mulai dari hal perbankan, penggadaian, bahkan dalam hal pendidikan pun di beberapa universitas di Indonesia telah menyediakan jurusan ekonomi syariah dalam hal penjurusan perkuliahan, dan sekarang, penggunaan konsep syariah mulai berkembang pesat dalam hal asuransi. Kata asuransi berasal dari Bahasa Belanda yakni “Assurantie” dan dalam Bahasa Indonesia disalin dengan kata “pertanggungan” dan kini lebih dikenal dengan kata asuransi. Dalam bahasa Arab, asuransi menggunakan kata “ta’min”, “penanggung” disebut dengan mu’ammin dan “tertanggung” disebut dengan “mu’ammin” lalu sering disebut dengan “musta’min”. Kemudian, menurut Ketentuan Pasal 246 KUHD, Asuransi atau Pertanggungan adalah Perjanjian dengan mana penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung dengan menerima premi untuk memberikan penggantian kepadanya karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan yang mungkin dideritanya akibat dari suatu evenemen (peristiwa tidak pasti).

Berbicara mengenai sistem asuransi itu sendiri, terkadang banyak masyarakat Indonesia pada umumnya yang justru kurang mengerti bagaimana sistem asuransi itu sendiri. Mengenai bagaimana perputaraan keuanganya, produk asuransi, tarif premi, bahkan cara kerja aktuaris yang mengestimasi kejadian masa depan dll. Kebanyakan dari kita hanya mengetahui kulit luar nya saja, yakni membayar tarif asuransi dan kita akan mendapat kompensasi nantinya sebagai penajamin keselamatan dll. Lebih dari itu kita tidak mengetahui apakah hukum mengikuti asuransi, halal atau tidaknya asuransi yang kita ikuti. Untuk itu Dewan yurisprudensi Islam Liga Dunia Muslim, Makkah, Saudi Arabia, menganggap bahwa semua transaksi asuransi modern termasuk asuransi jiwa dan niaga adalah bertentangan dengan ajaran Islam. Yusuf al-Qardawi dalam “Al halal wa al-Haram fi al-Islam” mengatakan bahwa diharamkannya asuransi konvensional a.l: (1) karena semua anggota asuransi tidak membayar uangnya itu dengan maksud tabarru, bahkan nilai ini sedikitpun tidak terlintas, (2) karena badan asuransi memutar uang tersebut dengan jalan riba. Di Indonesia PP Persatuan Islam (Persis) melalui Dewan Hisbah mengharamkan praktek asuransi konvensional. Demikian pula Muhammadiyah di Malang tahun 1987 juga mengharamkan asuransi yang mengandung unsur gharar dan judi, kecuali asuransi yang diselenggarakan oleh pemerintah seperti Taspen, Astek dan Jasa Raharja, karena banyak mengandung maslahah maka dibolehkan. Oleh karenanya, jika ditelaah secara mendalam, maka sebenarnya diharamkan asuransi konvensional oleh para ulama disebabkan karena asuransi itu mencakup tiga hal:

(1) Gharar (Ketidakpastian)

Dalam asuransi konvensional adanya gharar atau ketidakpastian disebabkan karena ketidakjelasan akad yang melandasinya. Apakah Aqd Tabaduli (Akad jual beli) atau Aqd Takafuli (tolong menolong). Sehingga jika terjadi klaim misalnya mengambil 10 tahun untuk Rp. 1.000.000 per tahun. Jika akad yang melandasinya jual beli, dan meninggal pada tahun ke 4, maka pertanggungan yang diberikan sebanyak Rp. 10.000.000. Ini berarti Rp. 6.000.000 gharar. Tidak jelas dari mana asalnya. Sedangkan pada salah satu perusahaan asuransi syariah yaitu Takaful (1994 )yang berdiri karena bank Muamalat (1992) yang menganut sistem syariah juga memerlukan suatu asuransi yang juga berbasis syariah memiliki akad Takafuli atau tolong menolong. Sehingga sejak awal membuka polis sudah diniatkan bahwa 95% premi untuk tabungan dan 5% diniatkan untuk tabarru. Jika terjadi klaim di tahun ke 4, dana yang 6 juta di atas tidak garar tetapi jelas sumbernya yaitu dari dana kumpulan tabarru (derma).

(2) Maisir (Spekulasi atau gambling)

Dalam Asuransi konvensional maisir timbul dalam dua hal: Pertama, Seandainya dia memasuki satu program premi, biasanya orang itu ada kemungkinan berhenti karena alasan tertentu. Apabila ia berhenti dijalan dan belum mencapai masa refersing Periode, dimana dia bisa menerima uangnya kembali (biasanya 2 s.d. 3 tahun) dan jumlah + 20%, uang itu akan hangus. jadi disini ada unsur maisir. Kedua, Manakala Underwriter atau yang menghitung remortalita kematian tepat, menentukan jumlah polis tepat, maka perusahaan akan untung. Tetapi jika salah dalam menghitungnya maka perusahaan akan rugi. Jadi jelas disini mengandung unsur maisir atau judi.

(3) Riba (Tambahan Uang dari Modal Pokok)

Dalam hal ini terdapat silang pendapat dikalangan ulama, apakah sama atau tidak dengan bunga. Bagi ulama yang mengharamkan, dengan tidak membungakan uang asuransi di bank dan membawa yang terbaik adalah menjauhi syubhat, menjauhi yang diikhtilafkan ummat dan kembali kepada ajaran agama. Karena bunga yang dibayarkan akan di investasikan lagi ke perusahaan yang entah menganut sistem riba juga atau tidak. Berdasarkan penjelasan di atas, jelas dikatakan bahwa jenis asuransi yang memiliki setidaknya satu dari unsur tersebut, merupakan asuransi yang haram. Akan tetapi Dewan menyetujui adanya “Asuransi Koperatif” yang tegak di atas prinsip ta’awun. Di Indonesia saat ini telah ada beberapa perusahaan yang berbasis koperatif secara syariah, yakni takaful umum, takaful keluarga (jiwa), dan mubarakah. Namun mengapa masih banyak sekali masyarakat Indonesia yang memakai asuransi konvensional? Itu karena rasa peduli masyarakat Indonesia masih kecil. Padahal perkembangan asuransi syariah di Indonesia mencapai 50% tetapi asset keseluruhan hanya 4% dan di Inggris asuransi syariah bahkan sudah memiliki asset 55% karena dinilai memang lebih mengutamakan maslahah. Kemudian, factor lain yang menyebabkan masih banyak yang menggunakan asuransi konvensional adalah asuransi asing lebih terkenal di pasar asuransi di Indonesia dibanding asuransi syariah, sehingga masyarakat lebih memilih perusahaan asuransi besar dibanding perusahaan asuransi yang lebih kecil. Terdapat juga asuransi konvensional yang bercabang dengan sistem syariah yakni MAA, Great Eastrern, Bumiputera (asuransi jiwa) dan tripakarta. Beberapa jenis asuransi ini dapat kita jadikan referensi apabila ingin memiliki asuransi sekaligus tabungan jaminan, Walaupun sesungguhnya kita tidak bisa menjamin suatu hal dapat sesuai dengan yang kita inginkan. Meskipun demikian tidak ada salahnya kita memiliki usaha untuk memiliki asuransi yang sistem dan prosesnya yang jelas dan halal. Namun Pada akhirnya, satu satunya penjamin kehidupan kita hanyalah Allah SWT Sang

Maha Pemilik Kehidupan. -Islamic Law Forum-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *