Hasil Kajian ILF #2 – Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam

Pemateri Kajian #2 ILF, Hanif Ibrahim Mumtaz.
Pemateri Kajian #2 ILF, Hanif Ibrahim Mumtaz.

 

Perkembangan Hukum Islam di Dunia

Salah satu perkembangan hukum Islam tidak terlepas dari Fiqh dan ajaran para Imam, dimana setelah wafatnya Rasulullah harus ada penerus yang harus diikuti dan diteladani bagi umat Islam demi perkembangan Islam yang menyeluruh. Dalam perkembangan Hukum Islam di dunia. Al-Quran sering menyandingkan hal yang bersifat ibadah fiqh dan akhlak, contohnya diwajibkan atas kamu berpuasa agar menjadi orang bertaqwa. Lalu ada zakat, jangan sampai zakatmu disertai kata-kata yang kasar dan menyinggung orang. Selain itu ada pula, apabila kamu sedang berhaji jangan berkata kata kotor.

Berbicara mengenai fiqh, kita kenal empat Imam, diantaranya Imam Malik Bin Annas, beliau dikenal sudah hapal qur’an sejak kecil. Sangat hati-hati jika memberi fatwa. Lalu ada Imam Syafi i, namanya menjadi besar setelah ia belajar dengan Imam Malik dan mengajar para haji. Selain itu ada Imam Hambali, beliau sempat dipenjara karena berbeda pendapat dengan penguasa dizamannya.

Selain keempat Imam tersebut, terdapat Imam Ja’far yakni keturunan keenam Rasulullah. Beliau merupakan guru dari Imam Abu Hanifah, Imam Malik. Sangat zuhud dan sangat tawadu. Beliau pernah di tawari untuk menjadi hakim, namun Ia menolak. Karena penolakan itu menurut buku ini akhirnya ia dipenjara hingga wafat. Meskipun  para imam seringkali berbeda pendapat, namun mereka sangat lurus dan orang-orang yang dapat dipercaya, sehingga perbedaan yang muncul bukan karena politik namun karena pemahamannya.

Sebagai contoh: ada perbedan dalam hukum fiqh yakni perihal batalnya wudhu apabila menyentuh lawan jenis. Tidak batal kecuali menyentuh Mahram adik, ibu (Imam Syafi’i). Pendapat lain yang mengatakan tidak batal jika tidak ada nafsu (Imam Hanafi). Sedangkan Imam Hambali walaupun mengenakan kain namun tetap batal. Perbedaan harus kita cari dasarnya. Sebagai seseorang yang mengenyam pendidikan akademik, kita harus bijak dalam menghadapi perbedaan. Kalau ada hal yang baru harus di gali dan lebih banyak membaca untuk menemukan kebenarannya.

Perkembangan Hukum Islam di Indonesia.

Perkembangan Hukum Islam di Indonesia tidak terlepas dari masuknya Islam di nusantara. Bermula dari masuknya Islam dimasa kerajaan Islam seperti Samudera Pasai. Masuknya Islam masuk ke Indonesia berbeda-beda, perkiraan Islam muncul sekitar abad tujuh atau delapan. Seminar mengenai masuknya Islam di Indonesia di tahun ‘63 telah diadakan dan menemukan kesimpulan bahwa Islam pertama kali masuk nusantara pada sekitar abad ke 7 atau 8. Lalu kapan Islam itu sendiri mulai berpengaruh? Mufli menyatakan bahwa sejak awal datangnya ulama selalu menjadi tokoh sentral dalam masyarakat.

Terdapat tiga cara islam masuk ke Indonesia:

  1. Perdagangan

Pada saat itu sangat heterogen dan orang banyak membawa budaya-budaya yang bermacam. Di saat itu yang menganut islam adalah orang-orang pesisir saja, karena daerah pesisirlah yang banyak bersentuhan dengan perdagangan.

  1. Kultural

Dulu di jazirah Arab terdapat kerajaan-kerajaan yang bergabung. Kemudian, ada beberapa orang yang menganggap kerajaan Islam ini lebih banyak politiknya. Kemudian orang-orang mulai menjauh dari  dan lebih ingin bertasawuf, memperbaiki diri, berfilsafat, dan menyingkirkan dari kegiatan duniawi. Ada sekian banyak orang yang eksodus, mencari tempat lain dan beberapa sampai ke Indonesia, di Jawa terutama. Mereka melihat ada suatu tradisi yang selaras dengan mereka yaitu pesantren (Pesantren tidak ada di zaman Rasulullah). Pesantren adalah tradisi hindu untuk mengumpulkan kasta yang tertinggi yaitu para brahmana. Kemudian, kegiatan sejenis itu di diikuti dan akhirnya dikenal kegiatan pesantren sejenis untuk mempelajari agama.

  1. Politik

Kerajaan Utsamani membaca riwayat perjalanan Ibnu Batutah, ia membuat kitab kitab ar-rihlah. Ia menceritakan kesingahannya ke Samudra Pasai dan beliau juga sempat ke Sumatera dan melihat bumi Andalusia, ia juga mampir ke Maluku, tempat tersebut pulau-pulau dan berkerajaan kerajaan kecil. Semua hal itu dilihat oleh Khalifah Ottoman dan ia berpikir bahwa itu adalah tempat yang baik untuk menyebar agama islam. Kemudian ia mencari ahli-ahli yang penting untuk membangun kerajaan kerajaan tersebut. Lewat jalur politik ini menarik, terutama di jawa karena di Jawa ini ada ratu adil, raja dewa. Itu juga yang membuat penyebaran islam lebih berkembang, contonya: Pangeran Diponegoro dianggap ratu adil atau raja dewa.
Mengapa Islam sangat cepat berkembang?

Ulama datang dengan pendekatan kebudayaan dan fiqh praktis. contohnya Aji kalimosodo dengan sekatennya. Dengan pendekatan fiqh banyak hal yang bisa dilakukan dan diterapkan oleh orang-orang dengan mudah, dan semua itu merupakan ajaran Islam, contohnya dengan mandi dan membersihkan diri, yang manfaatnya jelas dan mudah dilakukan, sehingga penganut animisme pada saat itu dapat memahami Islam melalui ajaran kebersihan dengan mudah. Jadi ketika mereka datang keisni jadi mereka memberikan fiqh dan ternyata memberikan manfaat praktis terhadap masyarakat disini.

Dulu terdapat kepercayaan dewa raja yang sangat kuat. Raja menjadi orang yang dianggp suci, sehingga keberadaan atau tindakannya segera diikuti oleh masyarakat. Sehingga saat Raja mengikuti Islam  maka saat itu para pengikutnya pun melakuakn hak yang sama.

Selain itu setelah zaman Hindu Budha untuk bergeser atau sudah di masa kemundurannya, dengan faktor pengkhianatan, serang menyerang, dll. Saat itulah Islam masuk dan Islam mengenalkan “egaliter”, yakni tidak ada perbedaan derajat diantara sesama manusia. Sehingga orang-orang ingin masuk Islam karena untuk menaikkan harkat kemanusiaannya. Islam berkembang jadi sangat pesat karena gabungan poliik, budaya dan perdagangan, oleh  karena itu karena abad 17 mayoritas penduduk indonesa sudah Islam.

Islam pra kemerdekaan. Awal abad 20, perjuangan menuju kemerdekaan banyak sekali diisi oleh tokoh-tokoh Islam dan ormas-ormas islam, SDI, NU, dll. Selama orde baru juga terjadi anomali. Setiap pemimpin biasanya berafiliasi dengan Islam dan Islam berada di sisi yg berseberangan. Di akhir orde baru, muncul peran orang Islam melalui organisasi-organisasi kampus dan puncaknya dibentuk ICMI. lalu bagaimana kita mengembangkan ilmu pengetahuan tentang Hukum itu sendiri?

Orang-orang Islam sudah seharusnya terlibat aktif dalam mewarnai dunia dengan nilai Islam di era demokrasi ini mengingat Islam cukup memiliki pengaruh terhadap masyarakat, pun dengan hukum Islam. Dengan begitu, umat muslim dapat membangun kekuatan yang diperhitungkan dalam dunia demokrasi. Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya cara pendekatan harus baik, menyesuaikan dengan karakter orang masing-masing, perlu adanya sikap anti perbudakan, berpihak kepada yang benar bukan hanya kepada yang bermodal dan peduli rakyat, sebagaimana semangat pembebasan oleh Islam dimasa yang lalu. Selain itu, kita harus belajar bagaimana caranya agar kita bisa menjadi orang yang berpengaruh. Seperti halnya membuat UU, jangan hanya menguntungkan sebagian kecil pihak saja dalam melakukan pergaulan.

Islam Indonesia memiliki kekhasan, mengutip perkataan Guru Besar UIN Jakarta Syarif Hidayatullah dalam tulisannya di Kompas 3 Agustus 2015. Beliau menyatakan bahwa wilayah Islam Nusantara dalam literatur prakolonial disebut ”negeri bawah angin” (lands below the wind). Lebih spesifik dalam literatur Arab sejak akhir abad ke-16, kawasan Islam Nusantara disebut ”bilad al-Jawi”, negeri ”Muslim Jawi”—yaitu Asia Tenggara. Umat Muslimin Nusantara biasa disebut sebagai ”ashab al-Jawiyyin” atau ”jama’ah al-Jawiyyin”. Wilayah Islam Nusantara atau bilad al-Jawiyyin adalah salah satu dari delapan ranah religio-cultural Islam. Tujuh ranah agama-budaya Islam lain adalah Arab, Persia/Iran, Turki, Anak Benua India, Sino-Islamic, Afrika Hitam, dan Dunia Barat. Meski memegangi prinsip pokok dan ajaran yang sama dalam akidah dan ibadah, setiap ranah memiliki karakter keagamaan dan budayanya sendiri.

Validitas Islam Nusantara tidak hanya secara geografis-kultural. Keabsahannya juga pada ortodoksi Islam Nusantara yang terdiri atas teologi Asy’ariyah, fikih Syafi’i, dan tasawuf Al-Ghazali. Kepaduan ketiga unsur ortodoksi ini membuat Islam Nusantara jadi wasathiyah; teologi Asy’ariyah menekankan sikap moderasi antara wahyu dan akal, fikih Syafi’i bergandengan dengan tasawuf amali/akhlaqi membuat ekspresi Islam jadi inklusif dan toleran.

Ortodoksi Islam Nusantara dengan kepaduan ketiga unsur tersebut terbentuk menjadi tradisi yang terkonsolidasi, mapan dan dominan sejak abad ke-17, yang kemudian lebih dikenal dengan istilah ahlus sunnah wal-jamaah (Sunni). Meski praktis hampir seluruh Muslim Indonesia adalah pengikut ahlus sunnah wal-jamaah, terdapat perbedaan tekanan. NU dengan penekanan pada tradisi ulama menyebut diri pengikut ”Aswaja”; istilah ini kemudian jadi brand name NU. Sementara Muhammadiyah sebagai pengikut ahlus sunnah wal-jamaah lebih menekankan pada aspek modernisme-reformisme dan ijtihad. Contoh diatas merupakan beberapa cerita mengenai masuknya Islam di Indonesia yang memiliki kekhasannya sendiri, yang membentuk sejarah perkembangan Islam di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *